Senin, 12 Juli 2021

Melahirkan Anak Pertama melalui Persalinan Normal dengan Induksi 23 Jam

Kehamilan pertamaku, sungguh menjadi pengalaman yang tak ternilai. Mungkin karena anak pertama, jadi terasa sangat excited. There's always first time for everything

Meskipun sudah 4 tahun lalu, tapi cerita persalinannya adalah cerita paling berkesan selama hidup. Dari awal mengetahui aku hamil, aku mempunyai keinginan untuk melahirkan melalaui persalinan normal, jika memungkinkan. Oleh karena itu, aku cukup rajin membaca dan membekali diri dengan informasi seputar kehamilan dan persalinan. Di era digital ini sungguh bukan hal yang sulit untuk mendapatkan informasi yang kita butuhkan, akan tetapi kita juga perlu memfilter lagi apakah informasi tersebut datang dari sumber yang kredibel. Untuk informasi seputar kehamilan, kesehatan anak, keluarga, dan parenting aku cukup sering mengunjungi website ibupedia.com. Karena selain kredibel, ibupedia tidak hanya menyajikan informasi melalui artikel saja, tetapi juga terdapat infografis yang menarik sehingga mudah dipahami.


MASA KEHAMILAN

Aku menjalani masa-masa kehamilan yang menyenangkan. Tidak ada keluhan yang berarti sampai usia kehamilan 30 weeks dimana dokter obgyn menyampaikan bahwa posisi bayi masih sungsang dengan kepala masih berada di atas. Bukan hanya itu, dokter juga menyampaikan bahwa plasenta menutup sebagian jalan lahir (plasenta previa) akan tetapi masih bisa untuk melahirkan melalui persalinan normal. Alhamdulillah, aku pun cukup optimis setelah diyakinkan oleh pernyataan dokter tersebut.

Aku pun mulai mencari informasi agar posisi kepala bayi berada di bawah. Aku mulai mencoba mempraktekkan tips yaitu melakukan sujud 15 menit minimal 2x sehari. Usaha itu pun membuahkan hasil. Ketika kontrol kehamilan 34 weeks, posisi kepala bayi sudah berada dibawah, tinggal mengusahakan agar masuk ke panggul. 

Memasuki usia kehamilan 39 weeks tidak ada tanda-tanda akan melahirkan seperti kontraksi, muncul flek, dan rembesan air ketuban. Jadi aku memutuskan untuk kontrol kehamilan. Dokter mengatakan bahwa berat bayi ideal, air ketuban masih banyak dan tidak keruh. Aku diarahkan untuk cek Cardiotocography (CTG), dan hasilnya detak jantung bayi bagus dan masih belum ada kontraksi. Akan tetapi dokter menyarankan apabila sampai 40 weeks tidak ada tanda-tanda akan melahirkan, langsung datang saja ke Rumah Sakit dan akan dilakukan tindakan induksi. Sempat ragu karena pernah mendengar cerita teman kantor yang melakukan persalinan dengan induksi, akan lebih sakit. Mungkin karena belum merasakan sakitnya seperti apa, aku tetap bisa meyakinkan diri sendiri bahwa it's gonna be okay dan pasti aman karena dibawah penanganan dokter. Dan mungkin juga masih ada sedikit harapan bahwa bayiku akan lahir sebelum 40 weeks.


PROSES MELAHIRKAN

Hingga usia kehamilan 40 weeks, sama sekali tidak ada tanda-tanda akan melahirkan. Akhirnya aku dan suami bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit sesuai dengan arahan dokter. Sesampainya di RS, suami mengurus administrasi dan aku memasuki kamar untuk dilakukan observasi. Ketika dicek, ternyata belum ada pembukaan. Tepat pada hari Senin, 40 weeks, pukul 13.00, suntikan induksi melalui infus dilakukan. Tiga jam pertama belum ada rekasi yang signifikan, jadi masih bisa ngobrol, bercanda, dan main handphone. Setelah itu, sekitar pukul 16.00 baru terasa nyeri di bagian panggul belakang, tetapi masih bisa di toleransi karena masih hilang timbul. Bidan menyarankan apabila terasa sakit, agar memiringkan badan kekiri untuk mempercepat penurunan kepala bayi saat persalinan. Pukul 17.00 bidan mengecek pembukaan, dan ternyata baru pembukaan 1. 

Mulai saat itu, nyeri panggul bagian belakang semakin intens. Aku hanya bisa mengelus dan sedikit memijatnya sembari merintih serta merapalkan doa. Sesekali meminta suami memijit dan memberi minum air gula agar energi tetap ada. Hingga pukul 21.00, bidan mengecek masih pembukaan 3. Pada pukul 23.00 bidan menawarkan untuk operasi caesar karena tim bedah ada jadwal operasi caesar di jam tersebut. Jika aku berminat, bisa dijadwalkan setelahnya. Melihatku yang kesakitan, suamiku berujar "it's okay kalo kamu memilih untuk operasi caesar, you've done great". Tapi aku merasa masih kuat, dan kondisi bayi juga masih aman. Setelah aku & suami begadang semalaman, pukul 07.00 dokter visit mengecek dan masih pembukaan 5. Energi terkuras semalaman dan mulai habis. Entah mendapatkan kekuatan darimana, aku masih memilih melanjutkan proses induksi ini. Hingga pukul 10.00 aku merasa sudah benar-benar tidak kuat lagi, exhausted. Aku meminta suamiku untuk memanggil bidan jaga dan meminta operasi caesar saja. Bidan pun mengecek pembukaan, surprisingly sudah pembukaan 8 dan menyarankan agar melanjutkan proses ini, tinggal sedikit lagi. Aku pun menguatkan diri lagi, dan akhirnya pada 11.59, dengan 3 kali mengejan, lahirlah bayi laki-laki yang kutunggu-tunggu. Rasa sakit yang tadi kurasakan sekejap hilang. Akhirnya, aku menjadi seorang ibu. 

    (Dok. pribadi)


Dari pengalaman ini, aku relate mengapa sampai ada ungkapan "surga di bawah telapak kaki ibu", karena dari mulai hamil sampai melahirkan, atau bahkan nanti mengASIhi sangat membutuhkan perjuangan. Untuk para calon ibu, persiapkan persalinan kalian dengan baik ya. Untuk kalian yang berencana untuk melahirkan melalui persalinan normal, coba baca tips disini deh, agar prosesnya nyaman dan minim trauma. Selain memperbanyak informasi tentang proses persalinan yang akan kalian pilih/inginkan, perlu juga persiapan fisik dan mental agar kuat hingga akhir dan jika terjadi hal yang tidak diinginkan dalam prosesnya, bisa menerimanya dengan ikhlas. Yang terpenting dari persalinan adalah, Ibu dan Bayi dalam kondisi sehat.


2 komentar:

  1. Hai melul :)
    Ayo nulis lagi yang banyak lul hehe
    Aku pembaca setia

    BalasHapus
  2. Wkwkwk makasii Dincee. Iyanih, WFH jadi banyak waktu. Coba2 nulis lagi. Ajarin dong nulis yg bener :D

    BalasHapus