Selasa, 18 September 2012

Pak Tirjo, sesederhana itu.

" Bagi saya, hidup di desa adalah anugerah yang sangat tak terkira dari Allah SWT. Saya sangat bersyukur"

Berawal dari kewajiban melakukan indepth interview kepada key person yang dapat memberikan gambaran mengenai keadaan sosial, budaya, dan kondisi kesehatan masyarakat Dsn.Pelle, Ds.Sentulan, Kec.Banyuanyar, Kab.Probolinggo, di dusun yang kupastikan antah berantah bagi siapapun pada kunjungan pertamanya. Ragu-ragu aku mengetuk pintu kayu yang menempel pada dinding berplamir seadanya. yang tak lama kemudian, muncullah sesosok pria berusia 80-an berkaos partai dan mengenakan sarung, berpeci, dan, berwajah teduh.

Pak Tirjo
Pak Tirjo, begitulah ia disapa. Tangannya yang sudah mulai berkerut itu terasa bersuhu diatas normal, warmth. Namun begitu, tak mengurangi keramahannya dalam menjamu tamu. Iya, beliau sangat amat welcome kepadaku, yang notabene hanya orang baru. Mungkin jika kita bertanya pada masyarakat urban, sebagian besar dari mereka hanya akan menjawab apa yang kita tanyakan, praktis dan arogan. Namun tak demikian halnya dengan kakek yang baru saja menderita stroke ini. Sembari menjawab pertanyaan dariku, beliau juga banyak bercerita tentang dirinya, keluarganya, dan arti hidup. shareable dan humble.

dengan cucu Billy, Sabily (:
Beliau lahir dari keluarga petani sederhana pada masa kompeni. Memiliki 4 orang anak yang harus berpendidikan lebih baik dan kehidupan lebih layak daripadanya. Baginya, anak-anaknya adalah hidupnya. Membanting tulang bekerja hanya untuk memenuhi cita-citanya, melihat anak-anaknya menjadi manusia yang lebih dari dirinya. Diajarkannya segala hal. Namun baginya, menanamkan mindset bahwa sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi yang lainnya, itu yang terpenting. Dan, terbukti. Kesemua anaknya saat ini telah menjadi orang-orang yang turut berkontribusi meningkatkan status sosial masyarakat disekitarnya. Buk Zumrotin, salah satunya. Menjadi kader posyandu yang tidak digaji itu, sangat sulit jika memang bukan orang yang mempunyai kesadaran sosial yang tinggi. Buk Zum, begitu ia disapa, dengan senang hati mengurusi registerasi, mengukur berat badan dan tinggi badan balita, bahkan sampai PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Ketika ditanya mengapa, ia hanya menjawab "ya, kebetulan saya juga tidak sibuk. Jadi daripada nganggur ya saya manfaatkan buat jadi kader". Betapa ibu Menkes harus sangat berterima kasih kepada orang-orang seperti Buk Zum. Tanpa mereka, program-program kesehatan yang telah ia rancang tak akan ada artinya. Mereka berjabatan struktural paling rendah, namun merupakan faktor penentu keberhasilan program kesehatan.
Begitu pun dengan tiga anak lelaki Pak Tirjo lainnya (yang saya kurang tau namanya). Ketiganya lulusan perguruan tinggi. Anak sulungnya menjadi kepala SDN di Desa Sentulan, yang saat ini juga sedang menempuh program magisternya. Lelaki yang kedua menjadi kepala dusun Pelle. Selain itu, beliau jugalah yang menggagas adanya TPQ di dusun Pelle. Bermula dari keprihatinannya melihat anak-anak yang hanya bermain tanpa ada peningkatan kualitas spiritual. Padahal seperti yang kita tau, modal spritual harus-lah terbuild up sejak dini sebagai pondasi awal. Akhirnya terbentuklah sebuah TPQ yang saat ini sedang mengembangkan sistem membaca kitab kuning untuk anak-anak. Lelaki bungsunya, malah lebih keren lagi. Ia mempunyai stasiun radio yang dapat memberikan informasi sekaligus entertainment, yang ia handle sendiri. Lebih berkontribusi di bidang perkomunikasian misal menjadi MC acara, OC haflah, dll.
Betapa senang ketika ia menceritakan bahwa ia masih diberi kesemapatan untuk melihat keempat anaknya berguna bagi yang lain dan berkehidupan lebih layak darinya.

makan bersama
Dan ketika ditanya, apakah tidak bosan dengan kehidupan didesa yang monoton, Pak Tirjo dengan tegas menjawab, tidak. "kehidupan di desa, tidak sesulit kehidupan di kota. yang penting hari ini bisa makan, sudah. penyakitnya juga tidak aneh-aneh seperti orang kota, paling juga linu, pegal-pegal karena bertani". Sesederhana itu.
.

(gatau kenapa tiba-tiba kangen ayah, dan yak, mello)
PS :
dear, ayahku (mungkin juga ayahmu)
engkau ayah yang selalu mengerti
dan aku anak yang tidak pernah memahami
maaf untuk ini
terima kasih karena selalu menemani
akan kubuat kau bahagia, aku janji