Rabu, 31 Juli 2013

Equilibrium Baru Kependudukan Indonesia

135 juta jiwa penduduk Indonesia... (by Rhoma Irama)
masih percaya?
saya sih, masih percaya. tapi dulu, waktu Bang Rhoma Irama masih suka nyanyi pake celana cutbrai.
nah sekarang?

KONDISI KEPENDUDUKAN SAAT INI

Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 (sensus penduduk) lalu sekitar 237,6 juta jiwa dan diperkirakan akan mengalami peningkatan hingga mencapai 250 juta jiwa pada tahun 2013 dengan pertumbuhan penduduk 1,49% per tahun. Dapat dilansir bahwa 1 bayi lahir per 10 detik, menunjukkan bahwa tingginya tingkat kelahiran di Indonesia.

Mengapa bisa demikian?

Ada beberapa faktor yang mendorong tingginya angka kelahiran tersebut, diantaranya adalah: faktor budaya, adanya anggapan bahwa banyak anak banyak rizki. Juga anggapan bahwa anak laki-laki lebih tinggi nilainya jika dibandingkan anak perempuan sehingga bagi keluarga yang belum memiliki anak laki-laki akan berusaha untuk mempunyai anak laki-laki. Demikian biasannya terjadi pada penduduk yang tinggal di pelosok daerah dan atau memiliki pendidikan rendah. Selain itu, sifat alami manusia yang ingin melanjutkan keturunan dan pernikahan dini juga termasuk faktor pronatalitas.

PROGRAM PEMERINTAH
Pemerintah Indonesia bukan tanpa usaha dalam menyikapi pesatnya pertumbuhan penduduk tersebut. Banyak program yang telah dirancang oleh pemerintah untuk mengendalikan masalah tersebut, salah satunya adalah program KB (Keluarga Berencana).

















Keluarga Berencana (KB) merupakan program yang digalakkan pemerintah untuk menekan laju pertumbuhan penduduk Indonesia, yang berda di bawah pengawasan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Masyarakat diajak untuk mengikuti program KB agar jumlah keluarga bisa dikendalikan. program ini dimaksudkan untuk membatasi jumlah anak yang dimiliki dalam sebuah keluarga, hanya memiliki dua anak saja. Pemerintah juga mensosialisasikan macam-macam alat kontrasepsi dan diberikan keleluasaan untuk memilih alat kontrasepsi mana yang sesuai dengan pilihan mereka, tentunya dengan penjelasan dokter/bidan terlebih dahulu.
Beberapa macam alat kontrasepsi dalam program KB ini adalah pil KB, spiral, vasektomi/tubektomi (steril), suntik, IUD, dan kondom. Program yang kini mempunyai jargon "dua anak, lebih baik" ini mulai dikenalkan kepada generasi muda dengan tujuan peningkatan pengetahuan tentang reproduksi sejak dini.

MENGAPA PENDUDUK HARUS DIKENDALIKAN?
Proyeksi Penduduk Tahun 2025.

Berdasarkan gambar piramida penduduk Indonesia diatas, terlihat perbedaan yang sangat jelas antara piramida penduduk tahun 2000 dan proyeksi tahun 2025. Pada piramida penduduk Indonesia tahun 2000 terdapat skewness yang cukup curam, tapi tidak pada tahun 2025. Itu menunjukkan bahwa terjadi pertambahan penduduk yang signifikan pada tahun 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) meyatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2025 mendatang mencapai 273,2 juta jiwa. Bukan angka yang kecil mengingat lahan yang tidak akan bertambah, dan konsekuensi yang harus dihadapi adalah kepadatan penduduk yang semakin meningkat. Tentu saja apabila hal tersebut tidak segera mendapat follow up, akan terjadi banyak masalah yang akan mempengaruhi segala aspek dalam kehidupan.

MASALAH YANG TIMBUL APABILA PENDUDUK TAK TERKENDALI
Mobilitas Sosial Ekonomi
pengangguran.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran di Indonesia hingga februari 2013 sebesar 7,17 juta orang. Meskipun angka tersebut turun tipis dibanding Agustus 2012 lalu (7,24 juta orang), jumlah tersebut terbilang masih cukup besar, yang apabila tidak dikendalikan akan berdampak negatif terhadap lingkungan sekitar.
Berdasarkan piramida penduduk diatas, terlihat bahwa porsi penduduk paling banyak terdapat pada tengah piramida yang menunjukkan daerah penduduk usia produktif. Banyaknya penduduk usia produktif yang tidak diimbangi dengan tersedianya lapangan kerja sesuai kebutuhan, menyebabkan tingginya angka pengangguran di Indonesia.

kemiskinan.
sumber: wapresri.go.id
sumber: tnp2k.go.id

Kemiskinan sudah pasti menjadi potret buram di Indonesia. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia per September mencapai 29,13 juta orang. Pertumbuhan penduduk, kualitas SDM yang rendah, dan sempitnya kesempatan kerja merupakan akar masalah kemiskinan. Tingkat kelahiran yang tinggi sudah barang tentu akan meningkatkan tingkat pertumbuhan penduduk, yang kebanyakan berasal dari katehori penduduk miskin hingga ada idiom yang menyebutkan bahwa "tidak ada yang bertambah dari keluarga miskin kecuali anak". masalah migrasi juga memicu pertambahan penduduk secara regional. Pulau Jawa, contohnya. Pulau Jawa luasnya hanya 7% dari total luas wilayah nasional, namun penduduknya yang mendiaminya sekitar 60% dari total jumlah penduduk Indonesia. Kesenjangan antar pulau ini menyebabkan munculnya kemiskinan baik di pulau-pulau luar yang tidak berkembang maupun Pulau Jawa sebagai akibat ketidakmampuan mayoritas penduduk pendatang maupun lokal yang kalah bersaing mendapatkan penghidupan yang layak.

kemacetan.

Salah satu hal yang memicu kemacetan adalah jumlah penduduk, yang tentunya dengan segala mobilitasnya. Untuk mempermudah mobilitas, kebanyakan orang akan memilih memiliki kendaraan pribadi daripada menggunakan alat transportasi umum. Tak ayal jika pertambahan jumlah kendaraan bermotor pun ikut membludak seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, mengingat tidak ada batasan jumlah kendaraan pribadi. Meningkatnya jumlah kendaraan yang tidak sesuai dengan kapasitas jalan itulah yang menyebabkan terjadinya kemacetan.
Kota Jakarta misalnya, yang merupakan icon megapolitan yang terkanal dengan kondisi kemacetannya, ditaksir total kerugian materilnya mencapai Rp 12,8 triliun per tahun. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta, Dono Boestami mengutip dari data Study on Integrated Transportation Master Plan II.

kelangkaan pangan.
Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk sehingga menuntut dipenuhinya kebutuhan pokok rakyat, terutama pangan. Hal ini sesuai dengan dengan pendapat Thomas Robert Malthus dalam bukunya "An Essay on the Principle of Population", yang menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk seperti deret ukur, sedangkan pertambahan pangan seperti deret hitung. Dengan kata lain, pertumbuhan penduduk cenderung melampaui pertumbuhan persediaan makanan, sehingga berisiko untuk terjadi kelangkaan pangan.
Mengapa? Dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali, tentu tingkat konsumsi terhadap bahan pangan meningkat, sedangkan lahan yang tadinya digunakan untuk bercocok tanam (produksi pangan), dijadikan kawasan pemukiman, industri, atau bahkan pusat perbelanjaan.

Kesehatan
tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).


Masalah kesehatan yang menjadi tanggung jawab pemerintah masih banyak yang belum terselesaikan. Hasil SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) tahun 2012 lalu, menemukan bahwa sekitar lebih dari 80.000 bayi baru lahir meninggal dunia saat berusia kurang dari satu bulan. Hampir 43% kematian bayi di bawah usia satu tahun terjadi pada 8 hari pertama kelahiran.
Disamping masalah kematian bayi baru lahir, diperkirakan sekitar 10.000 ibu di Indonesia meninggal setiap tahun akibat komplikasi selama kehamilan, persalinan, dan melahirkan. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara dengan kematian ibu terbesar di Asia Tenggara.
Hubungannya dengan kependudukan?
Kehamilan tanpa kesiapan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kematian ibu, bayi, dan anak meningkat. Kesiapan disini menyangkut dalam segala aspek baik usia, pengetahuan, dan materi. Kehamilan terlalu dini sangat berisiko baik terhadap kesehatan janin ataupun kesehatan ibu. Itu terjadi karena sistem reproduksi yang belum mature, akibatnya organ reproduksi yang belum siap, dipaksa untuk bekerja.

usulan grand design.
Mengingat banyaknya permasalahan yang timbul akibat pertumbuhan penduduk yang tinggi, harus ada population design program yang fit untuk mengendalikannya. Hal yang paling nyata dari pertumbuhan tersebut adalah kuantitas. Untuk mengendalikan kuantitas penduduk, 3 hal inti yang harus kita intervensi adalah fertilitas, mortalitas, dan mobilitas.
sumber: dokumentasi pribadi
Generasi Terencana
Jika kebanyakan alasan sulitnya program KB dilaksanakan karena masih terkendala budaya terdahulu, kini saatnya kita, generasi muda menciptakan equilibrium baru, terutama di bidang kependudukan.
sumber: bkkbn.go.id
Hal ini ternyata ditangkap sebagi peluang oleh pemerintah, sehingga terbentuklah program GenRe. Program GenRe yang kini mulai digalakkan oleh BKKBN sebetulnya bertujuan untuk menyiapkan kehidupan yang lebih baik bagi remaja. agar remaja bisa melalui 5 transisi kehidupannya dengan baik, yakni mendapat pendidikan yang berkualitas, mendapat pekerjaan yang kompetitif, remaja dapat membentuk keluarga yang baik, dan menjadi anggota masyarakat yang berperan besar dalam kehidupan bermasyarakat dan menerapkan pola hidup sehat bersama keluarga selama hidupnya.
Sudah saatnya kita, generasi penerus bangsa menciptakan generasi yang berkualitas dengan perencanaan yang matang. Jika equilibrium baru kependudukan di Indonesia yang mengedepankan kualitas tercapai, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara maju dalam beberapa dekade kedepan.

referensi:
http://bkkbn.go.id
http://bps.go.id
http://datastatistik-indonesia.com